Ayat Al-Qur'an

Kamis, 19 April 2012

Peran & Status Sosial

Peran & Status Sosial,  

Mana Yang Bisa Dipertukarkan ?


Untuk menjawab pertanyaan tersebut dimulai dengan memahami pengertian mengenai status sosial dan peran sosial terlebih dahulu. Mayor Polak, status sosial ialah kedudukan sosial seseorang dalam kelompok dan masyarakat.
Soerjono Soekanto, mendefinisikan status sosial sebagai tempat atau posisi seseorang dalam suatu kelompok sosial. Jadi, status sosial ialah kedudukan seseorang dalam kelompok di masyarakat. Status sosial sudah melekat pada seseorang sejak lahir, berasal dari status yang disandang oleh orang tua. Contohnya ; jika orang tua adalah guru, maka anak tersebut mempunyai status anak guru.

Berdasarkan cara diperolehnya, Status sosial dibedakan  menjadi 3 macam yakni Ascribed Status, Achieved Status, dan Assigned Status. Ascribed status ; status yang diperoleh berdasarkan keturunan/kesamaan darah, bersifat tertutup. Bersifat tertutup di sini berarti untuk memperoleh status dibatasi oleh batasan-batasan tertentu, misalnya pada masyarakat feodal atau masyarakat yang menganut rasialisme. Contoh lain ; status sebagai anak, adik, kakak, tante, dan lainnya.

Achieved status ; status yang diperoleh berdasarkan usaha / perjuangan, diperoleh setelah melakukan peran terlebih dahulu, bersifat terbuka. Bersifat terbuka, yaitu dalam memperoleh status individu berhak menentukan kehendaknya sendiri untuk memilih status tertentu sesuai dengan kemampuan yang dimilikinya. Contohnya ; status sebagai mahasiswa PTN yang diperoleh dari perjuangan mengikuti SNMPTN/SPMB terlebih dulu. Contoh lain; setiap orang dapat menjadi dosen, dokter, polisi bahkan presiden, asal ia mampu memenuhi persyaratan tertentu untuk mencapai status tersebut. 

Dan assigned status ; status yang diperoleh berdasarkan jasa yang dimiliki oleh orang tersebut. Hal ini senada dengan pendapat Horton dan Hunt, meritrokrasi (assigned status) yakni system sosial dimana status yang diberikan berdasarkan jasa. Contohnya ; gelar pahlawan nasional diberikan karena dianggap berjasa pada masa perjuangan, gelar guru teladan diberikan karena dedikasi yang tinggi, dan gelar mahasiswa berprestasi diberikan karena prestasi yang dicapainya.

Sedangkan, peran sosial adalah sikap dan tindakan seseorang sesuai dengan status yang dimilikinya dalam masyarakat. Peran sosial identik dengan identitas biologis sehingga terbentuk peran kodrati. Peran kodrati adalah peran yang secara langsung dimiliki oleh seseorang sesuai dengan identitas biologisnya. Peran biologis ada 2 yakni laki-laki dan perempuan. Peran sebagai laki-laki antara lain menghasilkan sperma, dan peran sebagai perempuan antara lain mengandung, melahirkan, dan lainnya.

Antara status sosial dan peran sosial salah satunya dapat dipertukarkan yakni peran sosial. Status sosial tidak dapat dipertukarkan karena status sosial hanya dapat diraih/diperjuangkan (achieved status) dan hilang dari seseorang. Status yang diraih contohnya status sebagai PNS diraih melalui perjuangan mengikuti serangkaian ujian CPNS hingga memperoleh legitimasi. Status sosial yang hilang dari seseorang dikarenakan orang tersebut tidak menjalankan perannya dengan baik sehingga mengancam eksistensinya. Contohnya ; status sebagai mahasiswa PTN dapat hilang dari seseorang bila orang tersebut sering bolos / melakukan hal yang negatif seperti terlibat kejahatan sehingga mendapat Drop Out (dikeluarkan) dari PTN terkait. 

Peran sosial dapat dipertukarkan, contohnya peran ibu dalam mengurus rumah tangga, bila suatu hari ibu sakit maka peran tersebut diambil alih oleh ayah dalam memasak, belanja, mencuci dan sebagainya. Contoh kedua, peran laki-laki sebagai pencari nafkah dapat dipertukarkan dengan perempuan seiring perkembangan jaman dan akibat dari emansipasi. Hal tersebut ditandai dengan semakin banyaknya perempuan yang bekerja. Pada dasarnya laki-laki dan perempuan memiliki peran dan power masing-masing.

Laki-laki berperan sebagai pencari nafkah dan memiliki power di ranah publik. Sedangkan perempuan berperan sebagai organizer rumah tangga dan memiliki power di ranah domestik. Karena perkembangan jaman perempuan berkesempatan memasuki ranah public sehingga menimbulkan kesenjangan peran antara laki-laki dan perempuan. Hal ini diakibatkan karena laki-laki tidak pernah dipersiapkan dalam ranah domestik. Dan akibat yang terparah adalah perceraian.

Contoh-contoh tersebut menggambarkan bahwa peran seseorang dapat dipertukarkan dan membawa dampak yang jauh dalam kehidupan sosial masyarakat. Tetapi tidak semua peran dapat dipertukarkan yakni peran kodrati. Seperti yang diuraikan di muka bahwa peran kodrati berkaitan dengan identitas biologis seseorang sehingga tidak dapat ditukarkan. Apakah ada perempuan yang berperan menghasilkan sperma atau laki-laki yang mengandung dan melahirkan ? Secara umum hal tersebut tidak lazim ada, namun bila hal tersebut ada dalam suatu masyarakat disebabkan oleh kelainan genetika.

Seseorang dimungkinkan untuk mengubah identitas biologisnya tetapi tetap saja hal tersebut tidak dapat mengubah peran kodrati yang dimilikinya. Contohnya ; seseorang dapat mengubah jenis kelaminnya misalnya dari dari laki-laki menjadi perempuan melalui operasi ganti kelamin dan suntikan hormon sehingga orang tersebut nampak seperti perempuan pada umumnya. Namun tetap saja, orang tersebut tidak dapat mengubah peran kodratinya. Hal itu terbukti dari orang tersebut tidak dapat mengandung ataupun melahirkan karena pada hakikatnya orang tersebut adalah laki-laki. 

Jadi, antara status dan peran sosial, yang dapat dipertukarkan adalah peran sosial kecuali peran kodrati. Karena peran kodrati berkaitan dengan identitas biologis seseorang. 

Daftar pustaka
Abdulsyani. 2007. Sosiologi Skematika, Teori, dan Terapan. Jakarta : PT. Bumi Aksara

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar