Ayat Al-Qur'an

Jumat, 20 April 2012

Konflik Lewis A. Coser

Konflik By Lewis A. Coser


Sejarah Awal

Lewis Alfred Coser adalah anak dari keluarga Yahudi borjuis , lahir 27 November 1913, di Berlin Jerman.Ia lahir dari pasangan Martin (seorang bankir) dan Margaret. Dia seorang yang anti kemapanan, sejak muda sudah bergabung dengan pergerakan sosialis. Setelah PD 2, ia mengajar di Universitas Chicago dan Universitas Brandeis, namun gelar Ph.D-nya didapat dari Universitas Columbia tahun 1968. Gelar guru besar dia dapat dari Universita Brandeis, dan di universitas itulah ia banyak berkiprah di bidang sosiologi. 1975 ia terpilih menjadi Presiden ASA (American Scoiological Assocation). Karya Couser yang sangat fenomenal adalah The Function of Social Conflict.

Coser banyak mengembangkan perspektif George Simmel dalam karya-karya sosiologinya. Karena itu Coser masuk ke dalam tokoh fungsionalisme konflik modern. Seperti halnya Simmel, Coser tidak mencoba menghasilkan teori menyeluruh yang mencakup seluruh fenomena sosial. Karena ia yakin bahwa setiap usaha untuk menghasilkan suatu teori sosial menyeluruh yang mencakup seluruh fenomena sosial adalah premature (sesuatu yang sia- sia).

Namun, Simmel mempertahankan pendapatnya bahwa sosiologi bekerja untuk menyempurnakan dan mengembangkan bentuk- bentuk atau konsep- konsep sosiologi di mana isi dunia empiris dapat ditempatkan. Penjelasan tentang teori konflik Simmel yang diambil dalam buku Beberapa Teori Sosiologis Seri Pengenalan Sosiologi 5 George Simmel halaman 63, sebagai berikut:

Simmel memandang pertikaian sebagai gejala yang tidak mungkin dihindari dalam masyarakat. Struktur sosial dilihatnya sebagai gejala yang mencakup pelbagai proses asosiatif dan disosiatif yang tidak mungkin terpisah- pisahkan, namun dapat dibedakan dalam analisa.

Menurut Simmel konflik tunduk pada perubahan. Coser mengembangkan proposisi dan memperluas konsep Simmel tersebut dalam menggambarkan kondisi-kondisi di mana konflik secara positif membantu struktur sosial dan bila terjadi secara negatif akan memperlemah kerangka masyarakat.
 
Teori Konflik Lewis A. Coser

Pengertian konflik :
Yaitu perjuangan atas nilai-nilai dan menuntut status yang langkah, kekuasaan, dan sumber2 untuk mengeliminasi lawan yang dapat memperkuat struktur hubungan-hubungan sosial.

Penyebab konflik :
Latar belakang munculnya pemikiran Coser tentang fungsi konflik sosial dapat dijelaskan dengan melihat kondisi intelektual, sosial dan politik pada saat itu. Kondisi intelektual adalah respon Coser atas dominasi pemikiran fungsionalisme yang merupakan orientasi teoritis dominan dalam sosiologi Amerika pada pertengahan tahun 1950.

Fungsi konflik :
a. Konflik dapat memperkuat solidaritas suatu kelompok yang agak longgar.
b. Konflik dengan kelompok lain dapat menghasilkan solidaritas didalam kelompok tersebut dan solidaritas itu bisa menghantarnya kepada aliansi-aliansi dengan kelompok-kelompok lain. Contohnya ; konflik antara Israel-Palestina, menyebabkan persekutuan yang solid antara Israel dengan AS.
c. Konflik juga bisa menyebabkan anggota-anggota masyarakat yang terisolir menjadi berperan secara aktif.
d. Berfungsi untuk berkomunikasi. Contohnya ; konflik antara pemerintah dengan mahasiswa dalam aksi demonstrasi menolak kenaikan harga BBM. Konflik tersebut memunculkan komunikasi antara keinginan pemerintah dan mahasiswa.

Katup penyelamat :
Katup penyelamat (savety valve) ialah salah satu mekanisme khusus yang dapat dipakai untuk mempertahankan kelompok dari kemungkinan konflik sosial. Katup penyelamat mengatur bila terjadi suatu konflik yang tidak merusak semua struktur yang ada, membantu memperbaiki keadaan suatu kelompok yang mengalami konflik, menghambat permusuhan, dan membendung ketegangan dalam diri individu.

Prakteknya, institusi katup penyelamat memungkinkan pengungkapan rasa tidak puas terhadap struktur. Contohnya ; DPR / DPD, berfungsi sebagai katup penyelamat karena merupakan tempat untuk menyalurkan aspirasi masyarakat. Akan tetapi, menurut saya DPR kurang berfungsi sebagai katup penyelamat masyarakat. Karena DPR tidak menyalurkan aspirasi masyarakat, melainkan menyelurkan aspirasi golongan (partai politik). DPR memang dipilih langsung oleh masyarakat, namun diusung melalui partai politik. Sehingga, kepentingan-kepentingan partai politik mempengaruhi kebijakan yang DPR rumuskan.

Macam-macam konflik :
-  Konflik  Realistis, berasal dari kekecewaan terhadap tuntutan-tuntutan khusus yang terjadi dalam hubungan dan dari perkiraan kemungkinan keuntungan para partisipan, dan yang ditujukan pada obyek yang dianggap mengecewakan. Contohnya ; gerakan para hakim yang mogok sidang agar tuntutan mereka berupa kenaikan gaji didengar.

-  Konflik Non Realistis, konflik yang berasal dari kebutuhan untuk meredakan ketegangan, paling tidak dari salah satu pihak. Coser menjelaskan dalam masyarakat yang buta huruf pembalasan dendam biasanya melalui ilmu gaib seperti teluh, santet dan lainnya. Sedangkan masyarakat maju melakukan pengkambinghitaman sebagai pengganti ketidakmampuan melawan kelompok yang seharusnya menjadi lawan mereka misalnya pada kasus korupsi wisma atlet.

Menurut Coser terdapat suatu kemungkinan seseorang terlibat dalam konflik realistis tanpa sikap permusuhan/agresi. Contohnya ; Dua pengacara yang selama masih menjadi mahasiswa berteman erat. Kemudian setelah lulus dan menjadi pengacara dihadapkan pada suatu masalah yang menuntut mereka untuk saling berhadapan di meja hijau. Masing- masing secara agresif dan teliti melindungi kepentingan kliennya, tetapi setelah meninggalkan persidangan mereka melupakan perbedaan dan kembali berteman.

Akan tetapi apabila konflik berkembang dalam hubungan- hubungan yang intim, maka pemisahan (antara konflik realistis dan non-realistis) akan lebih sulit untuk dipertahankan. Coser menyatakan bahwa, semakin dekat suatu hubungan semakin besar rasa kasih sayang yang sudah tertanam, sehingga semakin besar juga kecenderungan untuk menekan dibanding mengungkapkan rasa permusuhan. 

Sedangkan pada hubungan-hubungan sekunder, misalnya dengan rekan kerja/teman sejawat, rasa permusuhan dapat relatif bebas diungkapkan. Hal ini tidak selalu bisa terjadi dalam hubungan-hubungan primer dimana keterlibatan total para partisipan membuat pengungkapan perasaan yang demikian menjadi ancaman bagi hubungan tersebut. Apabila konflik tersebut benar-benar melampaui batas sehingga menyebabkan ledakan yang membahayakan hubungan tersebut. Contohnya ; konflik suami-istri.

Coser menjelaskan bukti yang berasal dari hasil pengamatan terhadap masyarakat Yahudi bahwa peningkatan konflik kelompok dapat dihubungkan dengan peningkatan interaksi dengan masyarakat secara keseluruhan. Bila konflik dalam kelompok tidak ada, berarti menunjukkan lemahnya integrasi kelompok tersebut dengan masyarakat. Dalam struktur besar/kecil konflik in-group merupakan indikator adanya suatu hubungan yang sehat. Coser sangat menentang para ahli sosiologi yang selalu melihat konflik hanya dalam pandangan negatif saja. Perbedaan merupakan peristiwa normal yang sebenarnya dapat memperkuat struktur sosial. Dengan demikian Coser menolak pandangan bahwa ketiadaan konflik sebagai indikator dari kekuatan dan kestabilan suatu hubungan.

Kelemahan teori konflik Lewis A. Coser :
Secara umum, Coser melihat konflik lebih pada fungsinya dan nilai-nilai positifnya merupakan sesuatu yang baik. Akan tetapi, konflik tetaplah konflik yakni sesuatu yang bersifat negatif dan bila intensitas konflik terlalu sering maka akan menjadi ancaman bagi eksistensi suatu masyarakat.


daftar pustaka :
http://adien.student.umm.ac.id/2010/02/11/teori-konflik/ diakses 15 April 2012
 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar